Health

Faktanya, MSG Aman Dikonsumsi, lho!

By  | 

Monosodium Glutamat (MSG) adalah garam sodium dari asam amino yang bernama asm glutamat, secara alamiah ada di tubuh manusia dan juga di berbagai kandungan makanan, mulai dari tomat, telur, susu sapi, daging sapi & ayam, bawang merah, bawang putih, wortel, apel, hingga ASI.

dr. Meta Hanindita, Sp.A

Menurut dr. Meta Hanindita, Sp.A, seperti yang tertulis dalam buku “Mommyclopedia: 567 Fakta Tentang MPASI” tidak ada bukti ilmiah yang membuktikan MSG pada manusia dapat membahayakan, merusak otak, atau menyebabkan kanker.

Glutamat dalam MSG secara kimia tidak dapat dibedakan dari glutamat yang ada secar alamiah dalam protein maknana. Tubuh kita pada akhirnya memetabolisme kedua sumber glutamat dengan cara yang sama.

Bagaimana cara pembuatan MSG?

MSG Awalnya dibuat dengan mengekstraksi kaldu rumput laut. Namun di masa sekarang, MSG diproduksi dengan proses fermentasi tepung atau gula, yang sama dengan proses membuat yogurt atau cuka.

MSG tidak memiliki rasa, namun membantu memberikan kekuatan rasa gurih alami makanan.

Jika aman, berapa banyak dapat dikonsumsi?

WHO tidak menentukan batasan maksimal asupan MSG karena tidak ada bukti bahwa MSG berbahaya bagi kesehatan. Penggunaan MSG dalam jumlah yang lazim sehari – hari masih aman. Sementar aitu, Food & Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat mengkategorikan penambahan MSG pada makanan pada kategori “generally recognized as safe” atau aman dikonsumsi.

Mengonsumsi MSG menyebabkan pusing?

Beberapa gejala seperti pusing atau mual setelah mengonsumsi makanan yang mengandung MSG pernah dilaporkan. Namun, hal ini hanya terjadi pada manusia yang sensitif terhadap MSG dan mengonsumsi MSG lebih dari 3 gram MSG saja tanpa makanan. Sementara itu, satu porsi makanan pada umumnya hanya ditambahkan MSG sebanyak kurang dari 0,5 gr. “Walaupun sudah dikonfirmasi bahwa konsumsinya aman, tidak berarti semua makanan harus ditambahkan MSG berlebihan, yaa… Sifatnya self limiting saja, karena jika terlalu banyak ditambahkan, rasa makanan akan berubah menjadi pahit,” tutup dr. Meta Hanindita, Sp.A. (Nathalie Indry/KR/Photo: Istockphoto.com)

Shares