Parenting

Tips Melatih Si Kecil dalam Mengendalikan Emosi

By  | 

Perkembangan emosional anak merupakan salah satu tahap tumbuh kembang anak untuk berinteraksi dengan orang lain dan mengendalikan emosinya. Semakin bertambah usia Si Kecil, maka kemampuan emosional Si Kecil juga akan semakin bertambah. Walau begitu, setiap anak memiliki tahapan perkembangan emosional yang berbeda.

Memiliki anak dengan kecerdasan emosional memang memerlukan tahapan dan waktu yang tidak sebentar. Langkah pertama yang dapat dilakukan Mamas adalah dengan melatih anak meregulasi emosinya. Regulasi emosi adalah proses pengendalian emosi yang dilakukan secara sadar atau tidak sadar yang bertujuan agar ekspresi emosi yang ditunjukan sesuai dengan lingkungan disekitar. Mengenalkan regulasi emosi sejak dini pada Si Kecil akan memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan sosial dan emosional anak nantinya hingga dewasa.

dr. Anggia Hapsari, Sp.KJ (K), Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Konsultan Psikiatri Anak & Remaja, RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, berbagi tips bagaimana agar kita sebagai orangtua dapat membantu Si Kecil memiliki regulasi emosi, yaitu dengan:

● Kenali emosi/perasaan diri (name the feeling)

● Kenali emosi/perasaan orang lain

● Hadir dan dengarkan perasaan anak

● Menanggapi dengan tepat apa yang menjadi kebutuhan anak

● Tidak bereaksi negatif saat anak rewel atau marah

Be a role model

● Senang bermain dengan anak dan tertarik dengan aktivitas anak

● Ajarkan teknik-teknik relaksasi (emotional toolbox

Namun demikian, terkadang anak-anak dapat mengalami emosi yang negatif, yang terkadang menjadi ledakan emosi. Tak perlu khawatir, karena sebenarnya hal ini dianggap wajar. Namun, dr. Anggia mengatakan bahwa ledakan emosi pada anak tetap harus diwaspadai apabila:

● Tantrum dan ledakan (outbursts) terjadi pada tahapan usia perkembangan di mana seharusnya sudah tidak terjadi, yaitu di atas usia 7-8 tahun

● Perilaku anak sudah membahayakan dirinya atau orang lain

● Perilaku anak menimbulkan masalah serius di sekolah

● Perilaku anak memengaruhi kemampuannya bersosialisasi dengan teman, sehingga anak “dikucilkan” oleh teman-temannya

● Tantrum dan perilaku anak telah membuat distress atau kesulitan dalam keseharian keluarga

● Saat anak merasa tidak mampu mengendalikan emosi marahnya dan merasa dirinya “buruk”

Ada beberapa faktor penyebab masalah emosi yang terjadi pada anak, antara lain:

● ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)

● Kecemasan/anxiety

● Trauma

● Kesulitan belajar

● Gangguan pemrosesan sensori (sensory processing issues)

● Spektrum autisme

● Sedikit mendapat kasih sayang dari keluarga maupun teman

● Terlalu terikat dengan satu figur yang dominan

Kepercayaan terhadap orangtua dan model figur yang mereka amati dalam keluarga berperan dalam membentuk kepercayaan diri anak. Hal ini dapat membantu anak untuk meregulasi emosinya dan mendorongnya menjadi mandiri, serta berani mengambil risiko. “Apabila Si kecil memiliki karakter ini, maka diharapkan anak dapat berperilaku tepat dalam lingkungan sosialnya dan terhindar dari masalah penyesuaian diri dalam hidupnya,” jelas dr. Anggia. (Tammy Febriani/KR/Photo: Doc. Freepik)

Shares