Gadget, Friend or Foe?

By  | 

Psikolog Roslina Verauli mengungkapkan bahwa permasalahan utama yang dihadapi anak zaman now adalah kehilangan fokus, kesulitan membina hubungan sosial karena distraksi yang datang dari segala sisi, termasuk gadget.

Seluruh pemain drama musikal “Senandung Anak Zaman”

Hal ini disampaikan saat konferensi pers pertunjukan drama musikal “Senandung Anak Zaman” yang diselenggarakan oleh Cerita Cinta Anak Indonesia, sebuah komunitas sosial yang memiliki kepedulian khusus pada anak – anak yang juga ingin menginspirasi dan memotivasi anak – anak melalui seni di Indonesia (7/2/2020) di kawasan Jakarta Selatan.

Rara & Alya, dua pemain utama drama musikal

Untuk mengatasi hal ini, psikolog yang akrab disapa Vera ini mengingatkan kembali agar orangtua dapat mendampingi anak- anak dan memberikan opsi kegiatan lain seperti aktivitas luar ruang dan menyaksikan teman – temannya bermain peran sehingga muncul semangat dalam dirinya untuk melakukan hal yang sama. “Anak – anak yang diajak untuk berkegiatan aktif di luar ruang pada umumnya dapat mengembangkan kemampuan sosial, motorik, sekaligus menurunkan hormon stres,” ungkapnya.

Gadget, friend or foe?

“Aku diperbolehkan mama menggunakan smartphone sejak kelas 5 SD, terutama untuk mengerjakan tugas. Kalau sekarang sih, pakai Instagram dan ikutan bikin Tiktok uituk senang – senang aja.. hehe..” ungkap Rara Sudirman (12), pemeran utama drama musikal “Senandung Anak Zaman”.

“Buat aku, gadget itu teman sekaligus guru! Karena aku dan mama setiap hari belajar untuk sesi home schooling di rumah.” – Richardo (7).

“Kadang – kadang teman, kadang lawan. Aku sejak SMP sudah boleh bawa HP, buat telfon atau SMS mama aja. Sekarang baru aktif pakai sosial media. Kalau dipakai terlalu sering sih, nggak bagus juga, ya.. Kan harus balance aktivitas di dunia nyata dan maya.” – Alya (18).

Harus Bagaimana?

“Batasan waktu konsumsi i yang ditentukan oleh AAP di Amerika Serikat untuk anak – anak yaitu 1 jam/ hari itu bukan tanpa alasan. Sekarang yang saya lihat prakteknya di Indonesia, rata – rata setiap anak menghabiskan 5 – 6 jam/ hari mengonsumsi screen time, yang mana itu sudah sansat berlebihan,” jelas Roslina Verauli.

Selain kehilangan fokus, problem utama yang sering ditemui di klinik psikologi adalah depresi sejak usia muda. “Tidak ada pilihan lain, orangtua harus bekerjasama dengan lingkungan sekolah dan rumah untuk membangun aturan baru yang data bermanfaat bagi masa depan anak – anak: Batasi penggunaan gadget dan dampingi pemakaiannya. Manfaatkan aplikasi pengatur waktu dan kontrol screen time sehingga tidak menimbulkan efek negatif yang berlebihan.” tutup Vera. (Nathalie Indry/KR/Photo: dok. Smartmama, Istockphoto.com)



Shares