Health

Musim Hujan dan Risiko Dengue Meningkat, Saatnya Perkuat Perlindungan Jangka Panjang!

By  | 

Memasuki musim hujan, risiko penularan dengue kembali meningkat seiring dengan bertambahnya tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti di lingkungan permukiman. 

Pola ini terus berulang setiap tahun dan menunjukkan bahwa dengue bukan semata isu musiman ya Mamas, melainkan ancaman kesehatan yang memerlukan kewaspadaan dan upaya pencegahan yang berkelanjutan, terutama di tengah pengaruh perubahan iklim, mobilitas penduduk yang tinggi, dan kepadatan wilayah perkotaan.

Merespons kondisi tersebut, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) didukung oleh PT Takeda Innovative Medicines, menyelenggarakan kegiatan edukasi media bertajuk “Musim Hujan Risiko Dengue Meningkat: Saatnya Perkuat Perlindungan Jangka Panjang bagi Anak dan Dewasa”. Kegiatan ini juga diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Penyakit Tropis Terabaikan Sedunia (World Neglected Tropical Disease Day) yang jatuh pada 30 Januari setiap tahunnya, dimana dengue termasuk salah satu penyakit tropis terabaikan yang masih membutuhkan perhatian serius dan kolaborasi lintas sektor.

Ketua Umum Pengurus Pusat PAPDI, Dr. dr. Eka Ginanjar, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP, FICA, MARS, SH, menegaskan bahwa dengue merupakan ancaman nyata yang masih dihadapi masyarakat Indonesia hingga saat ini. “Dengue bukan hanya persoalan klinis, tetapi juga tantangan kesehatanmasyarakat yang berdampak luas. Penyakit ini dapat terjadi sepanjang tahun, meski pada musim hujan risiko penularannya meningkat dan fasilitas kesehatan kembali berpotensi menghadapi lonjakan kasus. Karena itu, pencegahan harus menjadi fokus utama, bukan hanya ketika kasus sudah terjadi.”

Memperkuat pernyataan dr. Eka, dr. PrimaYosephine, M.K.M, Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, menyampaikan, “Pencegahan dengue tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Peran aktif masyarakat menjadi kunci, terutama dengan menerapkan 3M Plus secara disiplin dan rutin, karena praktik inilah yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari dan dapat memutus rantai penularan.” 

“Dari sisi pemerintah, kami terus memperkuat upaya pengendalian dengue melalui penguatan surveilans, respons kejadian luar biasa, edukasi masyarakat, serta pengendalian vektor secara terpadu bersama pemerintah daerah dan lintas sektor. Ke depan,selain upaya dasar seperti 3M Plus, penting juga untuk mulai mempertimbangkan pendekatan pencegahan yang lebih inovatif, termasuk vaksinasi, sebagai bagian dari perlindungan yang lebih menyeluruh. Semua langkah ini kita dorong bersama untuk mencapai tujuan utama: ‘Nol Kematian Akibat Dengue pada Tahun 2030’,” ujarnya.

Risiko Dengue bagi Penderitanya

Dengue dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia, tempat tinggal, maupun gaya hidup. Penyakit ini sering kali diawali dengan demam yang tampak seperti demam biasa, tetapi dapatberkembang cepat menjadi kondisi yang berbahaya. Karena itu, kita perlu mewaspadai tanda-tanda bahaya, seperti demam tinggi disertai nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, lemas berat, hingga penurunan kesadaran. 

“Keterlambatan mengenali tanda bahaya dapat berakibat fatal.  Perlu dipahami pula bahwa seseorang dapat terinfeksi dengue lebih dari satu kali, dan pada infeksi berikutnya risikonya dapat lebih berat,” terang Dr. dr. Adityo Susilo, SpPD, K-P.T.I, FINASIM, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh gejala awal dengue.  

Selain itu, orang dewasa yang mengalami denguetanpa gejala pun tetap berpotensi berperan dalam penularan, karena bila ia digigit nyamuk, nyamuk tersebut dapat membawa virus dan menularkannya kepada orang lain. “Hingga saat ini belum ada obat yang secara spesifik dapat menyembuhkan dengue, sehingga pencegahan tetap menjadi langkah paling penting melalui perlindungan diri dan pengendalian risiko secara konsisten,” paparnya.

Terkait perlindungan pada orang dewasa, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PP PAPDI, menekankan bahwa risiko dengue juga terjadi pada dewasa. “Selama ini, persepsi yang berkembang adalah dengue lebih banyak menyerang anak. Padahal, kelompok dewasa juga memiliki risiko yang signifikan, terutama mereka yang aktif secara sosial dan memiliki mobilitas tinggi, sehingga lebih berpeluang terpapar virus dengue,” urainya.

Kondisi ini menjadi perhatian karena pada sebagian orang dewasa, dengue dapat menimbulkan komplikasi yang lebih berat, khususnya pada mereka yang memiliki penyakit penyerta atau komorbiditas, seperti hipertensi, obesitas, penyakit ginjal, diabetes melitus, penyakit paru-paru, dan lain sebagainya. 

Cegah Dengue dengan Vaksinasi 

Dengue juga menimbulkan beban sosial-ekonomi. Saat orang dewasa jatuh sakit, bukan hanya produktivitas yang terganggu, tetapi juga aktivitas keluarga ikut terdampak, termasuk kebutuhan pendampingan, biaya tambahan, hingga risiko penularan di lingkungan sekitar. Karena itu, upaya perlindungan perlu diperkuat melalui pendekatan yang lebih komprehensif. Selain 3M Plus saat ini kita juga bisa melengkapi pencegahan dengue dengan melakukan vaksinasi dengue. Berdasarkan Jadwal Imunisasi Dewasa PAPDI yang terbaru, vaksinasi dengue kini dapat diberikan kepada kelompok usia yang lebih luas, yaitu 19 hingga 60 tahun. 

“Vaksinasi dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi pencegahan dengue yang menyeluruh, sejalan dengan upaya dasar seperti 3M Plus dan pengendalian vektor,” ungkap Dr. Sukamto. 

Bagi orang tua, melihat anak demam tentu menimbulkan kekhawatiran. Namun pada dengue, orangtua perlu lebih waspada. Pada demam berdarah dengue, terdapat fase kritis dimana kondisi anak dapat memburuk dengan cepat dan bila tidak cepat dikenali dan ditanggulangi dapat berakibat fatal. Karena itu, demam berdarah dengue tidak boleh dianggap sebagai demam biasa.

Tak hanya menyerang orang dewasa, dengue dapat menyerang siapa saja. Anak dari keluarga mana pun, tinggal di lingkungan mana pun, tetap dapat terinfeksi apabila ada penularan di sekitar rumah atau sekolah. Maka, orang tua perlu lebih waspada,memahami tanda bahaya dengue, dan segera mencari pertolongan medis ketika gejala mengarahpada tanda bahaya –seperti antara lain nyeri perut hebat, perdarahan– pada demam berdarah dengue. “Selain menerapkan langkah dasar seperti 3M Plus, orang tua juga dapat berkonsultasi ke dokter mengenai imunisasi dengue. Sejalan dengan persetujuan BPOM terbaru, imunisasi denguedirekomendasikan bagi anak-anak usia 4 hingga 18 tahun. Ini sesuai data kementerian kesehatan bahwa angka mortalitas dengue tertinggi adalah kelompok usia 5-14 tahun. Dengan demikian imunisasi akan melindungi kelompok usia tersebut melengkapiupaya pencegahan lain seperti 3M Plus untuk pengendalian nyamuk,” terang Prof. DR. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp. TKPS, Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Indonesia (IDAI).

Dukungan dari dari berbagai sektor juga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan dengue. Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, menyampaikan komitmen perusahaan sebagai mitra jangka panjang dalam pencegahan dengue di Indonesia “Sebagai orang tua dan bagian dari masyarakat, kita perlu bertindak sekarang dengan menerapkan 3M Plus secara konsisten, sekaligus mempertimbangkan pendekatan pencegahan yang inovatif. Takeda berkomitmen untuk terus mendukung upaya pencegahan dengue melalui kolaborasi, edukasi, dan solusi yang inovatif,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, PAPDI berharap kesadaran masyarakat terhadap bahaya dengue dapat semakin meningkat, pemahaman mengenai upaya pencegahan semakin kuat, serta partisipasi aktif masyarakat dalam melindungi diri dan lingkungan dapat terus didorong secara berkelanjutan. (Tammy Febriani/KR/Photo: Doc. Takeda)

Comments are closed.

Shares